jump to navigation

Dan Kereta Itupun Berlalu… November 28, 2008

Posted by Molin in Uncategorized.
trackback

Sore itu suara rintik hujan mengiringi degup jantungku untuk melakukan sebuah pengakuan. Sebuah pengakuan yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan yang menurutku kurang sehat dan kurang wajar jika hubungan itu disebut sebagai hubungan pertemanan.

Aku janji bertemu dengannya di suatu tempat. Oh ternyata dia sudah menungguku dengan raut muka yang begitu tidak menyenangkan. Yah aku tau karena dia amat sangat penasaran dengan apa yang ingin aku sampaikan. Sungguh cukup sulit bagiku untuk melakukan semua ini. Sempat terbesit keinginan untuk tidak melanjutkan niatku ini, karena aku takut apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi demi kebaikan, cepat atau lambat, benar atau salah, siap atau tidak siap harus aku lakukan. Berawal dengan niat yang baik, aku berharap hasilnya akan baik.

Seseorang ini sudah aku anggap sebagai teman baikku untuk sekian lama. Kondisi apapun bahkan di kondisi tersulitpun dia ada. Aku juga heran, kenapa bukan orang lain. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa pas kesulitan melanda, pas dia yang ada. Ya memang itu sudah jalanNya. Tapi aku tidak sempat berfikir jauh tentang hal itu. Ya mungkin suatu kebetulan. Sampai pada suatu saat dia membuat sebuah pengakuan bahwa ternyata semenjak awal pertemuan itu, aku sudah memenuhi relung hatinya. Jrengggg !!!! Speechless, terpaku, bingung, sedangkan suara di seberang sana menunggu kata2 yang keluar dari mulutku. Dia menjelaskan semuanya hingga hal-hal yang detail yang dia lakukan untukku. Tak pernah terfikirkan olehku bahwa seseorang itu begitu perhatian padaku. Duhhh lambat banget sih processorku, kecepatannya masih kilobyte sedangkan yang lain udah megabyte. Aku masih diam dan pada akhirnya aku berkata “Maafkan aku, ngga mungkin, kita berdua sama2 tau kalau itu ngga mungkin.” Ya, aku menolaknya. Tidak ada nada menyesal sama sekali ketika aku mengucapkan penolakan itu. Kemudian kututup telpon genggamku. Ya Allah, apa jadinya kalau aku bilang “kenapa ga bilang dari duluuuu???” atau “Baiklah aku akan mempertimbangkannya dan aku rasa aku bisa mencobanya”. Tapi aku amat sangat sadar bahwa itu tidak mungkin aku lakukan.

Waktu berlalu begitu cepat setelah kejadian itu, meskipun kondisinya sudah berubah tapi dia masih ada di kondisi tersulitku meskipun tidak sering. Perhatian itu masih bisa aku rasakan, dan aku masih tetap dengan sikap penolakanku. Karena jika aku menerima perhatian itu, maka akan memperburuk keadaan.

Setahun lebih aku jarang berkomunikasi dengannya hingga suatu saat aku dipertemukan lagi. Pembicaraan ringan mulai terjadi. Hingga pada akhirnya kami sering bertemu dan menjadi dekat kembali sampai suatu saat aku merasa ada yang tidak sehat dengan hubungan ini. Aku masih merasakan perhatiannya yang dulu meskipun dia sudah meyakinkanku bahwa rasa itu sudah hilang. Yah aku pernah mendengar bahwa “Luluh” adalah nama tengah dari seorang wanita. Ya aku luluh dan itu sudah terlambat. Tidak bisa ada lagi kata “Oh ya udah klo gitu kita coba aja” yang ada hanya kata “NGGA BISA” di bold di under line klo perlu distabilo merah. Ditambah lagi dengan kalimat “Ga ada harapan untuk bisa sama2″.

Sebuah pengakuan akhirnya keluar dari mulutku, fiuhh akhirnya terlepas bebanku. Itu yang pertama, tujuanku yang kedua juga sudah terjawab bahwa ternyata dia memang sudah tidak lagi menyukaiku. Fiuhh aman. Karena sudah tidak lagi ada rasa itu kemudian aku memintanya untuk memperlakukan aku sama dengan teman2 wanitanya. Dan ternyata jawabannya tidak seperti yang aku inginkan. Dia bilang tidak bisa karena menurutnya yang dia lakukan untukku adalah hal yang wajar dan tidak berlebihan. Tetapi tidak menurutku. Dalam hati aku berkata,”berkompromilah sedikit demi kebaikan hubungan pertemanan kita” Aku menginginkan hubungan pertemanan yang aman dan nyaman, bukan dihantui rasa bersalah dan ketakutan. Mungkin rasa bersalah dan ketakutan itu muncul karena pikiranku saja. Biarlah yang penting aku ingin hubungan yang aman dan nyaman. Tampak egois bukan ??? Kadang egois harus dilakukan demi kebaikan bersama.

“Kalau begitu aku aja yang mutusin” keluarlah kata2 itu dari mulutnya. Karena aku sudah cukup lelah dan usulan aku tadi untuk berkomuniasi sewajarnya tidak ia sanggupi, kemudian aku menyerah. Aku menunggu keputusan itu dengan iringan detak janung yang berdegup kencang. “Klo gitu ga usah ada sms, telpon, bahkan chatting” ujarnya. “Awal pertemuan kita dimulai bukan karena pertemanan tapi karena maksud lain dan itu sudah tidak bisa lagi diwujudkan saat ini. Jadi menurutku, kita balik ke awal saja” Terus terang aku kaget hingga lidahku kelu. Keputusan itu membuat aku terpaku. “Mulai besok ga ada nama Molin lagi” lanjutnya. Kuatkan aku ya Allah. Keputusan itu juga lebih memudahkanku untuk menghilangkan perasaanku yang sudah datang terlambat untuknya. Tapi aku fikir itu terlalu ekstrim. Padahal aku hanya meminta untuk tidak berlebihan dan menjalankan ini apa adanya sebagai seroang teman. Ya sudahlah, aku sudah lelah, aku mengalah. He is losing a friend, dan itu sudah menjadi keputusannya.

Kemudian kami berdiri, dan keretapun berlalu dan membawa dia sebagai penumpangnya. Aku berkata dalam hati untuknya. “Aku masih disini, masih menunggu di stasiun ini jika engkau kembali kapanpun itu, aku masih di sini sebagai temanmu. Tidak akan bisa aku hilangkan, karena engkau pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Maafkan aku.”

Comments»

1. reksa - November 29, 2008

maskudnya sapa nih mol? yg mana sih? lo sih kebanyakan, jadinya gw bingung???

2. morening - November 29, 2008

Ouch! Thats hurt!
Ada apa dengan otaknya ya? Dia menolak mengerem sedikit perhatiannya karena merasa itu adalah sesuatu yang “wajar dan tidak berlebihan”, tapi dia malah memilih berhenti temenan? Sejak kapan ya “berhenti temanan” menjadi sesuatu yang “wajar dan tidak berlebihan”?
Be strong Mol, u r on the right track!

3. u know who lah.. - December 18, 2008

ga nyangka kejadian sore itu bakal jadi cerita sebagus ini, kalo bukan karena kepiawaian sang penulis mungkin tidak akan menjadi cerita sebagus ini…
tapi menurut saya ada beberapa bagian dari cerita yang harus di hilangkan biar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda bagi pembaca cerita ini…seperti kalimat “Mulai besok ga ada nama Molin lagi”…benarkah kejadiannya seperti itu???…or hanya bumbu penegas cerita saja? tapi itu si hak sang penulis cerita yak?? he..he
btw…kok ga disebutin kalo diskusinya dilanjutin pas makan siang..he..he
nice story..keep writing

4. Molin - December 19, 2008

thanks for the comment…. hanya mencoba mengungkapan apa adanya… saya rasa kejadiannya memang benar seperti itu.. bukankah begiitu ??? mungkin anda bisa membantu untuk mengungkapkan maksud yang sebenernya.. hehe… karena sampe skrgpun memang belum ada komunikasi… saya merasa dia mendelete saya dari kehidupannya…. maaf ini dengan siapa ya ??? koq ga ada identitasnya ya….

5. ummufaishol - December 19, 2008

dalam pertemanan,apalagi dgn lawan jenis, harus ekstra hati2..
wanita itu rapuh..

mgkn lebih baik seperti itu bukan, Alloh memudahkan jalan ke arah kebaikan buat Molin… Amiin

insyaalloh kereta tambatan molin kelak akan datang disaat yang tepat..

jangan lupa undangan ya kalo kereta yang itu dah dateng😉

6. Molin - December 19, 2008

Amiiin… makasih ya mba rita doanya😀 ya memang wanita rapuh mangkanya banyak hati2, ketika ada yg aneh muncul, begitu mudahnya kata2 “why” terucap🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: